Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 24 September 2018

PENGARUH KEBIJAKAN PASCA BAYAR BIAYA PEMERIKSAAN INSTELASI LISTRIK TEGANGAN RENDAH TERHADAP PIUTANG USAHA TAK TERTAGI DI PT. PPILN SULAWESI TENGGARA












PENGARUH  KEBIJAKAN PASCA BAYAR BIAYA PEMERIKSAAN INSTELASI LISTRIK TEGANGAN RENDAH TERHADAP PIUTANG USAHA TAK TERTAGI DI PT. PPILN SULAWESI TENGGARA

Hairudin Bugis
Juwita








UNIVERSITAS  MUHAMMADIYA  KENDARI
Agustus 2018
 
 

































ABSTRACT
Hairuddin Bugis and Juwita. “the effect of post-paid expense policy of low voltage installation inspection on uncollectible account at PT. PPILN South East Sulawesi”. This study is aim at analyzing the effect of post-paid expense policy of low voltage installation inspection (X) on uncollectible account at PT. PPILN South East Sulawesi (Y). The population and sample was 30 employees and the managing board members at PT. PPILN South East Sulawesi. The data collected was primary data which included the perception of all respondents. The data was gathered using questionnaire. Then the data was analyzed using SPSS version23. The simple regression test between variable X and Variable Y concludes that H1 is accepted and H0 is rejected due to a high significance with coefficient value 0.000. The result also reveals that the coefficient determination R square (R2) is 0.114. It means that uncollectible account is affected as much as 11.4% by the post-paid policy. Meanwhile 88.6% is affected by other unknown variables.
Key words: post-paid, uncollectible account
I. PENDAHULUAN
a.Latar Belakng Masalah
Perkembangan dunia bisnis pada era globalisasi menuntut kinerja yang sempurna dari setiap proses yang dijalankan oleh perusahaan. Pemasaran tidak lagi dipandang sebagai bagian yang terpisah dari organisasi yang hanya berperan sebagai proses penjualan produk. Perkembangan konsep pemasaran sendiri tidak terlepas dari fungsi-fungsi organisasi yang lain dan pada akhirnya mempunyai tujuan untuk memuaskan pelanggan. Pemasaran yang tidak efektif (ineffective marketing) dapat membahayakan bisnis karena dapat berakibat pada konsumen yang tidak puas. Pemasaran yang efektif (effective marketing) justru berakibat sebaliknya yaitu menciptakan nilai atau utilitas. Menciptakan nilai dan kepuasan pelanggan adalah inti pemikiran pemasaran modern. Tujuan kegiatan pemasaran adalah menarik pelanggan baru dengan menjanjikan nilai yang tepat dan mempertahankan pelanggan saat ini dengan memenuhi harapannya sehingga dapat menciptakan tingkat kepuasan.
Salah satu kegiatan pemasaran adalah melakukan transaksi terdiri dari transaksi penjualan barang atau jasa, baik secara kredit atau tunai. Dalam transaksi penjualan kredit, jika order dari pelanggan telah dipenuhi dengan pengiriman barang atau penyerahan jasa, untuk jangka waktu tertentu perusahaan memiliki piutang kepada pelanggannya. Kegiatan penjualan kredit ini ditangani oleh perusahaan melalui sistem penjualan kredit. Dalam transaksi penjualan tunai, barang atau jasa baru diserahkan oleh perusahaan kepada pembeli jika perusahaan telah menerima kas dari pembeli. Kegiatan penjualan secara tunai ini ditangani oleh perusahaan melalui sistem penjualan tunai. Masalah yang umum yang dihadapi perusahaan ialah  penagihan piutang yang telah jatu tempoh tidak selalu dapat diselesaikan seluruhnya. Jika keadaan ini terus berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka modal perusahaan akan semakin kecil
PT PPILN (Perintis Perlindungan Instalasi Listrik Nasional) sebagai perusahaan yang bergerak dibidang sertifikasi instalasi listrik tegangan rendah milik konsumen /calon konsumen sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 484/20/DJL.4/2015 pada tanggal 10 Desember 2015 selaku salah satu lembaga inspeksi Listrik Tegangan Rendah (LTR). Tugas pokok PT PPILN antara lain : Melakukan pemeriksaan dan pengujian kesesuaian instalasi pemanfaatan tenaga listrik  tegangan rendah terhadap Persyaratan Umum Instalasi Listrik, Menerbitkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) dan Mensosialisasikan Undang-Undang No. 30 Tahun 2009 Tentang Ketenagalistrikan dan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2012 serta Peraturan Menteri ESDM  No. 10 Tahun 2016.
PT.PPILN Menerbitkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) kepada para pelangganya dengan menetapkan biaya/harga pemeriksaan sesuai Keputusan Mentri ESDM Cq Dirjen ketenaga listrikan, berdsasarkan besaran daya setiap meter pelanggan dengan harga yang bervariasi. Ketetapan ini lebih lanjut belaku seragam untuk semua lembaga inspeksi LTR yang berada di Sulawesi Tenggar termasuk PT.PPILN Sulawesi Tenggara. Sesuai dengan ketatapan derektur PT.PPIL PUSAT bahwa  penerapan pembayaran biaya pemeriksaan tersebut diawal kegiatan pemeriksaan atau pembayaran harus dilakuakan para pelanggan sebelum diadakan inpeksi terhadap Instelasi para pelanggan, akan tetapi hal ini sulit diterapkan di PT.PPILN Sulawesi Tenggara oleh karena persaingan antara LTR yang sudah ada dalam hal merebut calon pelanggan. Oleh Karen itu manajemen PT.PPILN Sulawesi Tenggara menempuh kebijakan atau strategi penjualan kredit yakni pembayaran biaya intelasi baik instelasi pasang baru ataupun tambah daya dilakukan setelah penerbitan SLO sebagai syarat kelayakan beroperasinya jaringan listrik mereka.
Kebijakan penjualan kerdit oleh Manajemen PT.PPILN tersebut berdampak posotif yaitu dapat menarik para pelanggan sebanyak mungkin untuk menjadi konsumen PT.PPILN Sulawesi Tenggara, akan tetapi di lain pihak kebijakan tersebut menyebabkan kekayaan PT. PPILN tercatat sebagai piutang yang semakin bertambah dari waktu ke waktu, serta sulit untuk ditagih tepat waktu sesuai waktu yang disepakati.
 Dilain fihak Kebijakan pasca bayar juga berakibat berubah arus penerimaan biaya pemeriksaan, semula masyarakat langsung melakukan pembayar kepada bendahara PT.PPILN Sulawesi tenggara, namun seiring  kebijakan tersebut seluruh pembayaran biaya pemeriksaan tidak lagsung ke bendahara akan tetapi pembayaran dari masyarakat terlebih dahulu melalui beberapa titik kemudian terakhir ke bendahara. Arus penerimaan biaya pemeriksaan yang terjadi di PPILN SULTRA dapat digambarkan seperti berikut ini :




KETERANGAN
______   Sangat banyak  (bayar Koletif maupun sendiri-sendiri dan terjadi piutang)
______   Kadang-kadang dan selalu 100% lunas
              Dikoordinasikan
______   Data penerimaan biaya pemeriksaan ke bagian akuntansi.
Disamping itu, berdasarkan hasil pengamatan lapangan bahwa tenaga pemeriksa mengalami tingkat tourn over  yang tinggi setiap tahun. Hal ini sesuai data ketanagakerjaan PT.PPILN bahwa setiap tahun terjadi pemutusan hubungan kerja karyawan lama ataupun merekrut karyawan baru. Pada hal karyawan pemeriksa adalah pihak yang lebih mengetahui dimana keberadaan piutang tak tertagi itu, hal ini sebagai akibat para pemeriksa diperbolehkan untuk menerima biaya tersebut dari masyarakat, baik biaya yang dibayar oleh pemilik instelasi ataupun dari para kontraktor yang bergabung didalam AKLI. Arus pembayaran biaya dapat diamati di gambar 1. Berikut posisi piutang tak tertagi tahun 2012 – 2017, PT.PPILN Wilayah Sulawesi Tenggara,
Tabel 1. Piutang Yang tak Tertagi 2012 -2017
No
KETERANGAN
T A H U N
JUMLAH
2012
2013
2014
2015
2016
2017
1
Tercetak (SLO)
1015
930
842
846
1200
933
5766
2
Total Biaya (Rp)
71,050,000.-
 65,100,000.-
 58,940,000,-
 59,240,000.-
 72,000,000.-
 56,000,000.-
382,330.000,-
3
Terbayar Pada Bendahara (Rp)
0
0
0
0
0
0
0
4
Belum Terbayar (Rp)
71,050,000.-
 65,100,000.-
 58,940,000,-
 59,240,000.-
 72,000,000.-
 56,000,000.-
382,330.000,-
Sumber : Data diolah dari Laporan Keuangan Time Series PT. PPILN Sultra 2012 -2017


II.    TINJAWAN PUSTAKA
a. Kajian Teori
1.                        Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran merupakan strategi untuk melayani pasar atau segmen pasar yang dijadikan target oleh seorang pengusaha. Oleh karena itu strategi pemasaran merupakan kombinasi dari bauran pemasaran yang akan ditetapkan oleh pengusaha untuk melayani pasarnya. Strategi pemasaran harus menggambarkan pasar sasaran dan posisi perusahaan di dalamnya, termasuk informasi mengenai pasar, kinerja produk, persaingan serta distribusi. Strategi pmasaran (marketing strategy) adalah suatu cara yang digunakan untuk membantu kita membuat dan mejual barang dan jasa yang sesuai dengan kondisi perusahaan dan pasar target atau selerah konsumen yang dituju. (Suharyadi dkk. 2007). Memilih metode yang tepat sebagai startegi dalam memindahkan barang ataupun jasa kepada pelanggan adalah suatu kondisi alternative yang dihadapai para pemasar dan penjual sesuai dengan garis kebijakan pemasaran yang ditetapkan menajemen suatu entitas bisnis. Hal ini lebih kepada bagaimana merebut pangsa pasar yang tinggi daripada pangsa pasar yang dimiliki lawan atau pesaing.
Dalam lingkungan yang persaingannya sengit, tenaga pemasaran harus meyakinkan pembeli bahwa mereka harus membeli produk mereka, bukan membeli produk yang dijual penjual lain. Karena pembeli konsumen dan pembeli komersial memiliki sumbrdaya yang terbesar yang harus yang dikeluarkan, setiap dolar untuk membeli suatu prodak tidak lagi dapat digunakan untuk pembelian lain. Dengan demikian setiap program pemasaran mecari cara agar produknya terlihat paling menarik (Ricky dan Ronald, 2006)

1.1.   Penjualan Kredit
Penjualan  kredit merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyampaikan barang kepada mereka yang memerlukan dengan jalan tidak segera meminta kontraprestasi pada waktu penjualan dilakukan. Pengertian Penjualan  Menurut Haryono (2003 : 327) bahwa penjualan kredit adalah penjualan yang dilakukan bilamana pembayarannya baru diterima beberapa waktu kemudian.  Selanjutnya Mulyadi (1997 : 204) menyatakan bahwa: Dalam transaksi penjualan kredit. Jika order dari pelanggan telah dipenuhi dengan pengiriman barang atau penyerahan jasa, untuk jangka waktu tertentu perusahaan memiliki piutang kepada pelanggannya”.  Sedangkan pengertian lain dari penjualan kredit adalah penjualan kredit menimbulkan tagihan kepada pelanggan sebesar harga jualn bersih setelah trade discount. Penjualan kredit ini dilakukan oleh perusahan dengan maksud untuk meningkatkan volume penjualan selain digunakan untuk mengimbangi pesaing (Rahmini hadi 2011)

2.Piutang Usaha
Setiap pemimpin perusahaan selalu menginginkan penjualan barang dagangnnya dibayar secara tunai. Namun, dilain phak, penjualan secara kredit justru akan memberi peluang untuk perluasan pasar sehingga dapat menambah laba usaha, meski hal ini juga bukan tanpa risiko. Piutang adalah tagihan kepada individu atau perusahaan lain yang akan diterima dalam bentuk kas. Pada umumnya piutang diklasifikasi menjadi piutang usaha (dagang), piutang wesel, dan piutang lain-lain. (Rudianto.2012)
Piutang usaha yaitu piutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Dalam kegiatan normal perusahaaan, piutang usaha biasanya akan dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun, sehingga piutang usaha dikelompokkan kedalam kelompok aset lancer, dengan demikian penagihan piutang perlu mendapat perhatian dan penangan serius agar resiko yang mungkin timbul dpat dihindarkan sekecil mungkin. Dalam hal ini, pimpinan seharusnya juga turut aktif mengelola penagihan piutang agar tidak sampai menghambat operasi atau kegiatan perusahaan. (Rudianto.2012)
Sesuai dengan Standar Akuntansi Keuang yang berlaku di Indonesia, piutang dicatat dan diakui sebesar jumlah bruto (nilai jatuh tempo) dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak akan diterima. Itu berarti piutang harus dicatat sebesar jumlah yang diharapkan akan dapat ditagih. Karena itu berkaitan dengan pengelolaan piutang, perusahaan harus membuat suatu cadangan piutang tidak tertagih yang merupakan taksiran jumlah piutang yang tidak akan dapat ditagih dalam periode tersebut.

2.1.Piutang Tak Tertagih
Pengertian piutang tak tertagih, menurut Keiso dan Weygand, adalah kerugian pendapatan yang memerlukan melalui ayat-ayat pencatatan yang tepat di dalam perkiraan harta piutang dan penurunan yang berkaitan dalam laba dan ekuitas pemegang saham. (Donald E. 2004)
Secara umum, suatu piutang diindikasikan sebagai piutang tak tertagih  apabila  telah jauh  melewati  tanggal  jatuh  temponya.  Piutang yang telah ditentukan sebagai piutang tak tertagih merupakan suatu kerugian yang harus dicatat sebagai beban (expense), yaitu beban piutang tak tertagih   (bad   debt   expese)   dalam   laporan   laba   rugi.   Semua penghapusan ini harus dicatat dengan tepat dan teliti karena berhubungan langsung dengan laporan yang digunakan manajemen dalam mengambil keputusan. (Abdul Halim. 2002)
Menurut  Abdul,  kredit  macet  atau  piutang  tak  tertagih  dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : Faktor Internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari pihak kreditur. dan   Faktor Eksternal, yaitu factor factor yang berasal dari pihak debitur. (Abdul Halim. 2002)

3.Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian yang relevan dan dirujuk ke dalam suatu rancangan penelitian  akan di amati dari beberapa aspek yakni  nama  Sipeneliti, Judul dan lokasi penelitian terkait, variable penelitan dan hipotesisnya, alat analisis serta hasil penelitian dan peluang variable yang akan  diteliti berikutnya. Pada rancangan penelitian ini akan dibatasi sehingga unsure yang dirujuk adalah Nama peneli, judul dan hasil penelitian yang relevan saja sementara aspek lain diabaika.
Muhammad  Indra Lukman Hakim 2016, Penanganan Piutang Tak Tertagih Dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus di Toko Bangunan Sumber Makmur Pegandon Kendal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Untuk menangani piutang tak tertagih,   toko   bangunan   Sumber   Makmur   Pegandon   Kendal   melakukan penagihan piutang  tempo dengan: (a) Pemberitahuan hutang jatuh tempo melaui telepon, (b) Menghubungi kembali untuk memberitahukan tempo (c) Penagihan langsung ke rumah konsumen. Apabila belum berhasil, toko bangunan Sumber Makmur Pegandon Kendal melakukan penyelesaian dengan cara memberikan toleransi (rescheduling), musyawarah (reconditioning), pembebasan. (2) Penyelesaian piutang tak tertagih yang dilakukan di   toko bangunan Sumber Makmur Pegandon Kendal secara ekonomi Islam sudah sesuai karena dalam penyelesaiannya   mengedepankan   unsur   toleransi   (tasamuh),   musyawarah (shulhu), dan pembebasan (shulhu ibra’).
Gap penelitian yang dapat dikemukakan disini  adalah obyek yang berbeda dan pada penelitian diatas menyoroti penanganan atau penagihan piutang tak tertagih sementara pada penelitian ini akan menyoroti sisi kibijakan yang memunculkan penjualan secara kredit.
Arsyina Lutfi Arrum Sari. 2015. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Piutang Tak Tertagih Pada PT.PELINDO III (Persero) Cabang Tanjung Emas Semarang. Hasil penelitian menunjukkan, faktor-faktor penyebab piutang tak tertagihada 2 yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Untuk faktor intern sendiridi pengaruhi oleh pihak Pelabuhan dan pengguna jasa, sedangkan faktor ekstern disebabkan oleh kondisi yang tidak pernah diharapkan oleh pihak manapun.
Gap penelitian yang dapat dikemukakan disini  adalah obyek yang berbeda dan pada penelitian diatas sipeneliti mengkaji penyebab munculnya piutang tak tertagih sementara pada penelitian ini langsung menetapkan satu factor yakni kibijakan yang memunculkan penjualan secara kredit sebagai variable dalam penelitian ini.
Devianti 2012, Tinjauan Atas Analisis Piutang Usaha Pada Toyota Sales Operation (Auto 2000) Cabang Cibiru Bandung. Hasil perhitungan dan perbandingan analisis piutang usaha AUTO 2000 cabang Cibiru Bandung dengan menggunakan Rasio Receivable turnover di Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2011 terjadi penurunan masing-masing 9 kali dan 8 kali, sedangkan Rasio Receivable collection Period di Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2011 terjadi kenaikan masing-masing 39 Hari dan 43 Hari.
Gap penelitian yang dapat dikemukakan disini  adalah obyek yang berbeda dan pada penelitian diatas sipeneliti mengamati trend pitang usaha dengan menggunakan alat anasis keuangan di tahun 2010 sampai dengan Tahun 2011 sementara pada penelitian ini melihat pengaruh kebijakan Pasca Bayar yang berakibat piutang tak tertagih.
Mikky Fariana, Elfreda A Lau dan  Adi Suros. 2012. Pengendalian Piutang Dagang Pada PT. Kokoh Inti Arebama Cabang Samarinda. Hasil kesimpulan, diketahui bahwa pengendalian piutang dagang telah efektif, 85% telah dilaksanakan dan telah memenuhi tahapan-tahapan sistem pengendalian piutang dagang,
Gap penelitian yang dapat dikemukakan disini  adalah obyek yang berbeda dan pada penelitian diatas sipeneliti menyoroti pengendalian piutang  sementara pada penelitian ini melihat pengaruh kebijakan Pasca Bayar yang berakibat piutang tak tertagih.
Iryani, 2016. Analisis pengelolaan piutang usaha Robin Cell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menilai resiko kredit, Robin Cell menerapkan 5C (capacity, character, capital, collateral,condition). Analisis kredit 5C bertujuan untuk memberikan gambaran bagi Robin Cell dalam memberikan piutang kepada debiturnya dalam melakukan pembayaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Gap penelitian yang dapat dikemukakan disini  adalah obyek yang berbeda dan pada penelitian diatas sipeneliti menyoroti pengendalian piutang  sementara pada penelitian ini melihat pengaruh kebijakan Pasca Bayar yang berakibat piutang tak tertagih.
M u r n I, 2009. Analisis Pemberian Kredit Dalam Menunjang Perkembangan Industri Kecil Di Kota Makassar. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) Hubungan antara  pemberian kredit terhadap industri kecil sangat besar dan positif, hal ini dilihat pada hasil perhitungan koefisien korelasi yang mencapai 0,96. (2) sesuai hasil perhitungan koefisien determinasi sangat besar yaitu mencapai 0,9314 atau 93,14% dan 6,86% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diketahui.
Gap penelitian yang dapat dikemukakan disini  adalah obyek yang berbeda dan pada penelitian diatas sipeneliti menguji hepotesis tentang hubungan variable pemberian kterdit terhadap industry kesil sementara pada penelitian ini melihat pengaruh kebijakan Pasca Bayar terhadap  piutang tak tertagih.
Neneng Salmiah, Satria Tri Nanda. 2016  Analisis Penilaian Kredit Pada Bpr Indo Mitra Mega Kapital Dan Bpr Payung Negeri Bestari Di Kota Pekanbaru. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan penilaian kredit (prinsip 5C) antara BPR Indo Mitra Mega Kapital dengan BPR Payung Negeri Bestari yang dapat memberikan jawaban terhadap terjadinya perbedaan KAP yang sangat jauh tersebut. Objek penelitian ini adalah penilaian kredit dengan menggunakan analisis 5C yang terdiri dari Character, Capacity, Capital, Colleteral dan Condition. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan gabungan antara metode kuantitatif dan kualitatif. Metode analisa data dengan melakukan uji statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian kredit antara BPR Indo Mitra Mega Kapital dengan BPR Payung Negeri Bestari yaitu pada variabel capacity terutama pada indikator 4 dan 5. Dari hasil statistik variabel capacity item pernyataan keempat menunjukkan bahwa BPR Indo Mitra Mega kapital hanya menganggap penting analis kredit bersama AO wajib survai untuk melihat usaha yang sedang dijalankan oleh calon debitur.
Gap penelitian yang dapat dikemukakan disini  adalah obyek yang berbeda dan pada penelitian diatas sipeneliti menyoroti penerarapan Metode 5C terhadap calon kreditur  sementara pada penelitian ini melihat pengaruh kebijakan Pasca Bayar terhadap  piutang tak tertagih.
b.                        Karangka Pikir




Berdasarkan pemaparan landasan teori yang dikemukakan diatas maka sebagai acuan penelitian peneliti dapat mendesain karangka piker sebagai berikut:
c. Hipotesis
Rumusan hipotesi dalam penelitian ini sebagai berikut : Diduga terdapat pengaruh Kebijakan Pasca Bayar terhadap piutang  tak tertagi pada PT.PPILN Sulawesi Tenggara.

III.               METODE PENELITIAN

a.  Lokasi dan Objek Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini berlangsung di Kantor PT, PPILN Sulawesi Tenggara dengan obyek penelitian adalah Para Karyawan dan staf di PT.PPILN Sulawesi Tenggara.

b. Jenis  Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, metode yang digunakan adalah  metode survey. Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan sejumlah masalah yang berkaitan dengan kebijakan Manajemen  PT.PPILN Sulawesi Tenggara Terkait Psaca Bayar yang berakibat kepada Piutang Tak Tertagih. Metode survey lebih cepat digunakan untuk menguraikan masalah-masalah yang hangat dan aktual atau peristiwa yang terjadi pada masa yang akan datang (Furchan, 1982) dalan (Sugioni, 2010)

c. Populasi dan Sampel
Pengambilan sampel harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang benar-benar dapat menggambarkan keadaan populasi yang sesungguhnya atau dapat juga dikatakan sampel haruslah representatif (mewakili) populasi. Menurut Nasution (1987:115) memilih suatu jumlah tertentu untuk diselidiki dari keseluruhan populasi disebut sampling. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 30 orang, mereka terdiri dari keseluruhan jajaran manajemen, staff admininstrasi dan keuangan, karyawan lapangan, dan pengurus di rayon-rayon yang ada di Sulawesi tenggara. Sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan populasi yang berjumlah 30 orang

d.Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data subyektif dalam penelitian ini dengan cara Kuesioner, cara ini digunakan untuk menjaring jawaban tertulis tentang pertanyaan maupun pernyataan  yang terkait indikator-indikator dari variabel penelitian ini.

e. Variabel  Penelitian
   Secara operasional penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atau memperoleh informasi tentang piutang tak tertagi yang disebabkan oleh kebijakan Pasca Bayar yang ditempuh oleh Manajemen. Secara rinci variabel terikat  (Y) adalah Piutang Tak Tertagi, sebagai variabel terikat, sementara variable bebas (X)  adalah Kebijakan Pasca Bayar Biaya Pemeriksaan Instelasi Listrik Tegangan Rendah

f.  Defenisi Operasional
   Untuk mencapai keseragaman pemahaman atas beberapa istilah  dalam penelitan ini, maka perlu diuraikan istilah-istilah pada bagian devenisi operasional ini:
1. Pasca Bayar adalah penyelesaian kewajiban yang di lakukan setelah pelayanan terkait pemeriksaan Instelasi Listrik hingga terbit SLO yang di sepakati antara pelanggan atau pemelik instelasi dengan pihak PT.PPILN Sulawesi Tenggra
2. Piutang adalah hak perusahan yang masi berada pada pihak ke dua yang dicatat dan diakui sebagai Aset lancar yang dimiliki PT.PPILN yang bersumber dari Biaya Pemeriksaan Istelasi Listrik yang akan di bayar di waktu yang akan datang
3. Piutang tak tertagi adalah bagian asset lancar yang tidak bisa ditagih lagi oleh PT. PPILN Sulawesi Tenggara Kepada Pihak Pelanggan atau Pemilik Instelasi Listrik

g. Pengukuran Variabel Penelitian adalah    
Pengukuran variabel penelitian dilakukan dengan menetapkan indikator dan skala likert untuk masing-masing variabel. Penggunaan  skala likert (1-5. Setelah menghimpun data dari responden maka  data tersebut ditabulasi ke dalam suatu tabel skor jawaban dimana data disusun sesuai urutan pertanyaan atau pernyataan ke bawah dengan sisitim skor jawaban daripada setiap responden terhadap suatu pertanyaan atau pernyataan, kemudian akumulasi jawaban terhadap suatu pertanyaan atau pernyataan tersebut akan di pindahkan ke tabel rekap (tabel XY) (Sugiono, 2008). Adapun  indikator dan pengukuran skala likert yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1.   Untuk pilihan jawaban : sangat setuju/selalu/sangat baik, diberi skor 5
2.   Untuk pilihan jawaban : setuju/sering/baik, diberi skor 4
3.   Untuk pilihan jawaban : ragu-ragu/kadang-kadang/hampir baik, diberi skor 3
4.   Untuk pilihan jawaban : tidak setuju/hampir tidak pernah/tidak baik, diberi skor 2
5.   Untuk pilihan jawaban : sangat tidak setuju/tidak pernah/sangat tidak baik, diberi skor 1
Kelima skala likert untuk pernyataan posotif dan memiliki nilai yang berkebalikan untuk pernyataan yang negetif.
Sebelum menganalisis lebih jauh data yang akan dijaring maka perlu dilakukan uji instrumen dengan asumsi : Instrumen falid berarati instrument tersebut dapat dipergunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur, ini berarti hasil penelitian valid jika terdapat kesamaan data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Selanjutnya hasil penelitian reabel bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda (Sugiono, 2010)
1.      Pengujian validitas
Penelitian ini menggunakan construct validity, karena instrument yang diguanak untuk mengukur variabel penelitian dirancang sesuai dengan konsep teoritisnya atau konsep-konsep yang telah diuji melalui penelitian sebelumnya. construct validity merupakan salah satu cara yang paling banyak digunakan. Validitas alat ukur dilakukan untuk mengkorelasikan antara skor yang diperoleh dari setiap item dengan skor totalnya. Skor total merupakan nilai yang diperoleh dari hasil penjumlahan semua skor item dan hasilnya harus signifikan berdasarkan ukuran statistic tertentu.
2.      Pengujian Reabilitas
Dimana :
     K     = mean kuadrat antara subyek
     ∑si2 = mean kuadrat kesalahan
     st2    = varians total

 
Penelitian ini menggunakan internal consistency method karena model ini hanya memerlukan satu kali pengujian saja dan masalah-masalah yang timbul akibat pengujian realibilitas, pemecahannya dengan menggunakan rumus Alfa Cronback, adapun rumus Pengujian reliabilitas dengan teknik Alfa Crobanch dilakukan untuk jenis data interval/essay. Rumus koefisien realibilitas Alfa Cronbach : (Sugiono,2010) adalah sebagai beriku :
                            k                       ∑si2
                ri =                         1 –
                        (k - 1)                           st 2



Rumus untuk varians total dan varians item :
                                  ∑ Xt2                           ( ∑ Xt )2
Dimana :
JKi = Jumlah kuadrat seluruh skor item
JKs = Jumlah kuadrat subyek
         

 
                st 2 =                          -
                                   n                           n2
                        
                                   JKi                                 JKs
                si 2 =                          -
                                   n                           n2

h.Teknik Analisis Data
Rumusan hipotesis menunjukkan pada penellitian korelatif, serta data untuk variabel dependen berskala interval dan variabel independen berskala ordinal maka teknik analisis data yang digunaka untuk menganalsis tingkat signifikansi korelasi diantara variabel independen adalah model statestik regresi sederhana 1 predictor.
Hasil analisis regresi terhadap data hasil observasi atau antara piutang tak tertagi dengan Kebijakan Pasca Bayar. Adapun persamaan yang digunakan dalam analisis regresi berganda enem predictor (Sugiono, 2010) adalah :           Y = α + β1 X1 + …. €


Dimana :
Y =  piutang tak tertagi. α = intercept/constant. Β = slope/konstanta. X1=kebijakan pasca bayar . € = Faktor kesalahan


 
 
           
1. Uji Asumsi Klasik (classic assumption test)
         Model regresi linier sederhana (single regression) dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi asumsi yang kemudian disebut dengan asumsi klasik. Proses pengujian asumsi klasik dilakukan bersama dengan proses uji regresi sehingga langkah-langkah yang dilakukan dalam pengujian asumsi klasik menggunakan langkah kerja yang sama dengan uji regresi. Ada lima uji asumsi klasik yang dilakukan terhadap suatu model yaitu uji normalitas, Autokorelasi, uji linieritas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas. Pada penelitian ini menggunakan metode pengujian yang relevan yaitu model  asumsi klasik : 
-   Uji Normalitas
Uji Normalitas adalah sebuah uji yang dilakukan dengan tujuan untuk menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variable yang tergambar pada diagram pancar, apakah sebaran data tersebut berdistribusi normal ataukah tidak. Uji Normalitas berguna untuk menentukan data yang telah dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal.
2. Metode Analisis Data.
         Ananlisis regresi terhadap data yang sudah di tabulasi dengan menggunakan rumus Korelasi satu prediktor (Sugiono,2010) sebgai berikut :
                                           b1 ∑ x1y        
                Ry (1…1)    =
                                             ∑ y2

       Uji signifikansi koefesien korelasi sederhana, jika Fh > Ft  maka koefesien korelasi sederhana yang diuji signifikan, yaitu dapat diberlakukan ke populasi dengan taraf kesalahan 5% maupun 1%, atau sebaliknya, dengan rumus (Sugiono,2010) sebgai berikut :
                              R2 (N – m – 1)         
                F =                                                                 m = Jumlah Variabel     
                                m(1 – R2)   

         Setelah model penelitian memenuhi asumsi-asumsi yang mendasarinya, maka selanjutnya adalah menguji hipotesis penilitian
3.Pengujian Hipotesis
Pada penelitian ini hipotesis statistik dipergunakan dengan bentuk hipotesis deskriptif. Terdapat satu hipotesis deskriptif yang perlu diuji dengan menggunakan alat tenik statistic parametris yaitu korelasi produk moment dengan rumus (Sugiono, 2010) sebagai berikut :                              
                                xy                                        
     rxy   =
                           √∑ x2 y2

       Rumus ini digunakan untuk melihat korelasi antara variabel independen (Xn) dengan variabel dependen (Y), perhitungan akan dibantu dengan tabel penolong untuk variabel independen, kemudian dirangkumkan hasil pengujian dalam satu tabel Hipotesis asosiatif.
         Untuk menguji signifikansi hubungan yaitu hubungan yang ditemukan itu berlaku untuk seluruh populasi maka perlu diuji signifikansi dengan rumus (Sugiono, 2010) sebagai berikut :

                                             r √  n - 2
                                t   =  
                                             √1 – r2

Uji signifikansi korelasi produk moment dapat dikonsultsikan pada tabel r produk moment dengan pedoman interprestasi koefesien regresinya adalah : 0,00-0,199 = sangat kuat, 0,20-0,399 = kuat, 0,40-0,599 = sedang, 0,60-0,799 = rendah dan 0,80-1,00 = sangat rendah.

IV.              HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
PT PPILN (Perintis Perlindungan Instalasi Listrik Nasional) sebagai perusahaan yang bergerak dibidang sertifikasi instalasi listrik tegangan rendah milik konsumen /calon konsumen  sebagaimana, yang telah ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 484/20/DJL.4/2015 pada tanggal 10 Desember 2015.  Alamat Kantor Pusat PT PPILN;  Jl. Pemuda No. 55 Demak Jawa Tengah.Telp (0291) 6905519, 686219. Fax (0291) 6904219.  Email : ppiln_pusat@yahoo[dot]com. PT PPILN mempunyai kegiatan antara lain  : 
1.Melakukan pemeriksaan dan pengujian kesesuaian instalasi pemanfaatan tenaga listrik  tegangan rendah terhadap Persyaratan Umum Instalasi Listrik
2.Menerbitkan Sertifikat Laik Operasi (SLO)
3.Mensosialisasikan Undang-Undang No. 30 Tahun 2009 Tentang Ketenagalistrikan dan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2012 serta Peraturan Menteri ESDM  No. 10 Tahun 2016 
b.Biaya Pemeriksaan Instalasi Daya 450 VA - 197.000 VA
Berikut adalah rincian biaya pemeriksaan keamanan instalasi arus listrik. Biaya dibawah ini sudah termasuk PPN 10%. 
Tabel 2.  Harga Biaya Pemeriksaan Intelasi Tegangang Rendah
No
Daya
Per VA
Biaya Pemeriksaan
No
Daya
Per VA
Biaya Pemeriksaan
1
450

Rp. 40.000,-
13
16500
Rp. 25,-
Rp. 412.500,-
2
900
Rp. 60.000,-
14
23000
Rp. 575.000,-
3
1300
Rp. 95.000,-
15
33000

Rp. 20,-
Rp. 660.000,-
4
2200
Rp. 110.000,-
16
41500
Rp. 830.000,-
5
3500

Rp. 30,-
Rp. 105.000,-
17
53000
Rp. 1.060.000,-
6
4400
Rp. 132.000,-
18
66000

Rp. 1.320.000,-
7
5500
Rp. 165.000,-
19
82500

Rp. 15
Rp. 1.237.500,-
8
6600
Rp. 198.000,-
20
105000
Rp. 1.575.000,-
9
7700
Rp. 231.000,-
21
131000
Rp. 1.965.000,-
10
10600

Rp. 25,-
Rp. 265.000,-
22
147000
Rp. 2.205.000,-
11
11000
Rp. 275.000,-
23
197000
Rp. 2.955.000,-
12
13200
Rp. 330.000,-




Sertifikat Laik Operasi (SLO) merupakan Solusi Keselamatan Instalasi Listrik yang dikeluarkan oleh PT. PPILN setelah melakukan pemeriksaan. Dengan adanya sertifikat dari PT. PPILN berarti instalasi anda telah terpasang telah sesuai dengan SNI dan PUIL, sehingga mengurangi resiko terjadinya kebakaran akibat dari hubungan singkat arus listrik.

c.  Sertifikat Laik Operasi (SLO)

Sertifikat Laik Operasi (SLO) adalah sertifikat yang dikeluarkan oleh perusahaan sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Menteri ESDM  melalui surat ketetapan  PT PPILN mengeluarkan Sertifikat Laik Operasi yang dicetak secara Online menggunakan SI OMSIL dan dapat diperiksa status sertifikasinya secara online. Lebih lanjut mengenai SIOMSIL dapat diketahui. PT PPILN mengeluarkan Sertifikat Laik Operasi setelah melakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap instalasi listrik. Contoh Sertifikat Laik Operasi yang diterbitkan PT PPILN : 

http://ppiln.or.id/upload/common/ii%20copy.jpg
c. Hasil
1.  Uji validitas dan reliabilitas
1.1.  Uji validitas Y

Tabel 3. Correlations


Item 1
 Item 2
Item 3
Item 4
Item 5
Item 6
Y
Item 1
Pearson Correlation
1
.176
.115
.224
-.036
.036
.361*
Sig. (2-tailed)

.221
.428
.117
.803
.803
.010
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 2
Pearson Correlation
.176
1
.319*
.339*
.240
.224
.574**
Sig. (2-tailed)
.221

.024
.016
.094
.118
.000
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 3
Pearson Correlation
.115
.319*
1
.225
.478**
.605**
.761**
Sig. (2-tailed)
.428
.024

.117
.000
.000
.000
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 4
Pearson Correlation
.224
.339*
.225
1
.488**
.228
.642**
Sig. (2-tailed)
.117
.016
.117

.000
.111
.000
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 5
Pearson Correlation
-.036
.240
.478**
.488**
1
.435**
.726**
Sig. (2-tailed)
.803
.094
.000
.000

.002
.000
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 6
Pearson Correlation
.036
.224
.605**
.228
.435**
1
.692**
Sig. (2-tailed)
.803
.118
.000
.111
.002

.000
N
30
30
30
30
30
30
30
Y
Pearson Correlation
.361*
.574**
.761**
.642**
.726**
.692**
1
Sig. (2-tailed)
.010
.000
.000
.000
.000
.000

N
30
30
30
30
30
30
30
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Berdasarkan output diatas terlihat bahwa semua nilai item personal  corelasi Y sudah berada diatas 0,3 dan nilai signifikan Y lebih kecil dari α (0,05), yang artinya semua data item pertanyaan untuk dimensi Y yakni variable piutang tak tertagi sudah valid.
1.2.   Uji Reliabilitas Y

Tabel 4.  Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.701
6

Berdasrkan output di atas terlihat bahwa nilai cronbach alpha 0,701 > 0,6. Yang artinya data kuisioner atas variable piutang tak tertagih sudah reliable.
1.3.      Uji  Validitas X
Tabel 5.  Correlations


Item 1
Item 2
Item 3
Item 4
Item 5
Item 6
X
Item 1
Pearson Correlation
1
-.032
-.032
.072
.054
.168
.314*
Sig. (2-tailed)

.828
.826
.621
.712
.243
.026
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 2
Pearson Correlation
-.032
1
.560**
.417**
.709**
.680**
.771**
Sig. (2-tailed)
.828

.000
.003
.000
.000
.000
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 3
Pearson Correlation
-.032
.560**
1
.441**
.652**
.394**
.723**
Sig. (2-tailed)
.826
.000

.001
.000
.005
.000
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 4
Pearson Correlation
.072
.417**
.441**
1
.327*
.642**
.730**
Sig. (2-tailed)
.621
.003
.001

.020
.000
.000
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 5
Pearson Correlation
.054
.709**
.652**
.327*
1
.518**
.790**
Sig. (2-tailed)
.712
.000
.000
.020

.000
.000
N
30
30
30
30
30
30
30
Item 6
Pearson Correlation
.168
.680**
.394**
.642**
.518**
1
.799**
Sig. (2-tailed)
.243
.000
.005
.000
.000

.000
N
30
30
30
30
30
30
30
X
Pearson Correlation
.314*
.771**
.723**
.730**
.790**
.799**
1
Sig. (2-tailed)
.026
.000
.000
.000
.000
.000

N
30
30
30
30
30
30
30
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).











Berdasarkan output diatas terlihat bahwa semua nilai item personal  corelasi X sudah berada di atas 0,3 dan nilai signifikan Y lebih kecil dari α (0,05), yang artinya semua data item pertanyaan untuk dimensi kebijakan pasca bayar (X) sudah valid.
1.4.   Uji Reliabilitas X

Tabel 6. Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
N of Items
.747
6

Berdasrkan output di atas terlihat bahwa nilai cronbach alpha 0,747> 0,6. Yang artinya data kuisioner tentang Kebjikan pasca bayar sudah reliable
2. Uji  Asumsi  Klasik
2.1.Uji  Normalitas

Berdasarkan output  diatas, menjelaskan bahwa titik data yang ada mengikuti garis diagonal dari titik nol dan tidak melebar terlalu jauh, maka dapat disimpulkan data tentang kebijakan pasca bayar dan data tentang piutang tak tertagih berdistribusi normal.
2.2.Analisis Regrasi.
Pada penelitian ini hipotesis statistik dipergunakan dengan bentuk hipotesis deskriptif. Terdapat empat hipotesis deskriptif yang perlu diuji dengan menggunakan alat tenik statistic parametris. Proses analsis akan dibantu dengan Program Tools pada kumputer yaitu SPSS. Versi 23. 
Analisis ini digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel independen (X) dengan variabel depende (Y), perhitungan akan dibantu dengan tabel penolong untuk variabel independen dan variable dependen, kemudian dirangkumkan hasil pengujian dalam satu tabel Hipotesis deskreptif..   Untuk menjelaskan ditolak atau diterimanya hipotesis maka berlaku hipotesisi statistik sebagai berikut :
Ho  :  µ  = o (tidak ada pengaruh). Ha    :  µ     o  (ada pengaruh)
Berikut adalah hasil dari pengujian hepotesis dari variabel penelitian melalui data yang telah diolah  atas serangkaian penelitian yang telah dilakukan :
1.                        Uji Signifikan


Tabel 7. Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
22.419
1.821

12.314
.000
X. kebijakan pasca bayar
.217
.087
.337
2.480
.017
a. Dependent Variable: Y





Koefesien regresi yang ditemukan sebesar 0.017, dan nilai signifikan Y lebih kecil dari α (0,05), yang artinya termasuk kategori pengaruh sangat signifikan maka secara statistik Ho di tolak dan sebaliknya Ha diterima. Dengan demikian maha hipotesisi tentang :  “Diduga terdapat pengaruh Kebijakan Pasca Bayar terhadap piutang  tak tertagi pada PT.PPILN Sulawesi Tenggara”, di terima.
2. Uji Koefisien determinasi (R Square)
Tabel 8. Model Summaryb
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1. kebijakan pasca bayar
.337a
.114
.095
2.60944
a. Predictors: (Constant), X
b. Dependent Variable: Y

Berdasarkan output model summary di atas, terlihat bahwa nilai R square sebesar  0,114, yang artinya variable Y (piutang tak tertagi) dipengaruhi sebesar 11,4% oleh variable X (kebijakan pasca bayar), sedangkan selebihnya 88,6% di pengaruhi oleh variable lain yang belum dimasukkan dalam penelitian ini.
d. PEMBAHASAN
1.Hipotesis Kebijakan Pasca Bayar
Hasil pengolahan data yang terangkum pada tabel-tabel diatas selanjutnya dapat di bahas untuk mengetahui pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen, yang kemudian akan dihubungkan dengan teori ataupun hipotesis yang disusun, penelitian yang relefan serta deskrepsi emperis di lapangan.
Rekap tabel uji hipotesis diatas menunjukan pengaruh antara Kebijakan Pasca Bayar Biaya Pemeriksaan Instelasi Listrik Tegangan Rendah (X) Terhadap Piutang Usaha Tak Tertagi. ditemukan sangat signifikan. Koefesien regresi yang ditemukan sebesar 0.017, termasuk kategori pengaruh signifikan yang sangat kuat . hal ini menunjukan H1 diterima dan Ho. ditolak, dan didukung nilai koefesien beta (B = 0.217) yang positif pada tabel di atas. Ini berarti Kebijakan Pasca Bayar Biaya Pemeriksaan Instelasi Listrik Tegangan Rendah (X) Terhadap Piutang Usaha Tak Tertagi. kesimpulan ini dapat digeneralisasikan ke populasi dimana sampel berada.
Rumusan hipotesi dalam penelitian ini sebagai berikut : Diduga terdapat pengaruh Kebijakan Pasca Bayar terhadap piutang  tak tertagi pada PT.PPILN Sulawesi Tenggara. Temuan yang mendukung Hipotesis X sejalan dengan teori yang dikemukakan Abdul Halim, 2002,  kredit  macet  atau  piutang  tak  tertagih  dapat disebabkan oleh beberapa faktor yakni : Faktor Internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari pihak kreditur. dan   Faktor Eksternal, yaitu factor factor yang berasal dari pihak debitur. Faktor internal dimaksud antara lain adalah kebijakan penjualan kredit sebagai suatu strategi pemasaran yang di tempuh dalam dalam rangka peningkatan volume penjualan suatu produk, baik produk barang maupun pelayanan jasa. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Suharyadi dkk. 2007 bahwa  Strategi pmasaran (marketing strategy) adalah suatu cara yang digunakan untuk membantu kita membuat dan mejual barang dan jasa yang sesuai dengan kondisi perusahaan dan pasar target atau selerah konsumen yang dituju.
Hasi pembahasan dan temuan hipotesis yang diterima  diatas dapat sejajarkan dengan penelitian yang relevan yakni penelitian penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai rujukan dalam penelitian ini. Hasil ini  sejalan atau dengan kata lain penelitian mendukung hasil penelitian dari saudari Arsyina Lutfi Arrum Sari. 2015. Hasil penelitiannya menunjukkan, faktor-faktor penyebab piutang tak tertagih ada 2 yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Untuk faktor intern sendiridi dipengaruhi oleh pihak Pelabuhan dan pengguna jasa, sedangkan faktor ekstern disebabkan oleh kondisi yang tidak pernah diharapkan oleh pihak manapun.
Secara emperis atas pengamatan  realitas di lapangan, PT. PPILN Pusat telah menetapkan sistem pembayaran Biaya Pemeriksaan Instelasi liatrik, yakni harus dilakukan atau dilunasi sebelum dilakukan pemeriksaan instealsi di rumah rumah atau bangunan lain. Dengan kata lain harus membayar dulu kemudian intelasinya  diperiksa selanjutnya diterbitkan sertifika like operasional atas instelasi tersebut, hal ini berlaku secara nasional. Akan tetapi pengurus PT.PPILN Wilayah Sulawesi Tenggara menempuh yang sebaliknya yaitu setelah pemeriksaan hingga penerbitan SLO, baru boleh dibayar Biaya Pemeriksaan. Hal inilah yang memicu timbulnya piutang tak tertagi, walaupun prosentase piutang tertagi lebih tinggi daripada piutang tak tertagi. Kondisi ini berlangsung dari tahun pertama berdiri hingga saat penelitian ini dilakukan.

2.                         Determinasi Variabel Kebijakan Pasca Bayar terhadap piutang tak tertagi
Nilai R square yang terdapat pada tabel Model Summary diatas  sebesar  0,114, yang artinya variable piutang tak tertagi dipengaruhi sebesar 11,4% oleh variable kebijakan pasca bayar, sedangkan selebihnya 88,6% di pengaruhi oleh variable lain yang belum dimasukkan dalam penelitian ini. Temuan ini sejalan pula dengan teori teori diatas terutama teori yang dikemukakan oleh Abdul Halim, 2002. Bahwa piutang tak tertagi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang di klasifikasikan kedalam faktor internal dan faktor eksternal, dimana kebijakan hanyalah satu bagian kecil daripada faktor internal. Walaupun kebijakan penjualan kredit merupakan titik awal dari pada munculnya piutang tak tertagih itu, namun upayah meminimalisir piutang tak tertagi dari sisi internal akan lebih lanjut dilaksanakan secara teknis melalui metode metode akuntansi yang terstandar seperti pengendalian piutang, penagihan, dan upaya upaya lain. Semetara faktor eksternal lebih banyak ditentukan oleh keadaan para debetur atau orang orang yang berhutang serta kondisi fasmayor lainnya.

V. KESIMPULAN DAN SARA
a.Kesimpulan
Berangkat dari suatu konstruksi atas gep venomena dan permasalahan serta hipotesis yang dibangun, kemudian dilanjutkan dengan koidah koidah statistik serta interprestasi berdasarkan teori, research yang relevan dan pengamatan imperis secara saksama maka satu kesimpulan tunggal yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah : Kebijakan Pasca Bayar Berpengaruh Secara Sangat Signifikan Terhadap Piutang Tak Tertagi di PT. PPILN Wilayah Sulawesi Tenggara
b.Saran
i.   Kepada pengelolah perusahaan pada umumnya dan khususnya PT. PPILN Wilayah Sulawesi Tenggara, dalam mengelolah piutang piutangnya hendaknya mempertimbagkan secara matang kebijakan yang diambil terkait strategi penjualan kredit/ pasca bayar, selalu memperhatikan aturan aturan yang disepakati antar pihak, baik aturan hutang piutang antar kreditur dan debitur maupun aturan corporasi yang berlaku .
ii.  Oleh karena fokus kajian penelitian ini hanya pada kebijakan pasca bayar yang menyebabkan piutang tak tertagi saja, maka Peluang kajian bagi peneliti peneliti yang akan datang adalah faktor faktor teknis baik secara internal atupun eksternal yang menyebabkan terjadinya piutang tak tertagi pada suatu intitas bisnis tertentu.
DAFTAR  PUSTAKA
Abdul Halim, Akuntansi Sektor Publik Keuangan Daerah, Edisi 1, Jakarta: Salemba Empat, 2002,
Arsyina Lutfi Arrum Sari. 2015. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Piutang TakTertagih Pada PT.PELINDO III (Persero) Cabang Tanjung Emas Semarang. Skrepsi. Universitas Negri Semarang
Devianti 2012, Tinjauan Atas Analisis Piutang Usaha Pada Toyota Sales Operation (Auto 2000) Cabang Cibiru Bandung, Jurnal Universitas Widyatama
Donald E. Kieso And Jerry J. 2004. Weygant, Akuntansi Intermediate, edisi 7, jilid I, Terj. Herman Wibowo, Jakarta: Erlangga,
Iryani, 2016. Analisis Pengelolaan Piutang Usaha Robin Cell. Jurnal , STIE Wira Bhakti Makassar
M u r n I, 2009. Analisis Pemberian Kredit Dalam Menunjang Perkembangan Industri Kecil Di Kota Makassar. Jurnal Ekonomi BALANCE. FE. Universitas Muhammadiya Makassar.
Mikky Fariana, Elfreda A Lau dan  Adi Suros. 2012. Pengendalian Piutang Dagang Pada PT. Kokoh Inti Arebama Cabang Samarinda. Jurnal. Universitas 17 Agustus 45 Samarinda
Muhammad  Indra Lukman Hakim 2016, Penanganan Piutang Tak Tertagih Dalam Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus di Toko Bangunan Sumber Makmur Pegandon Kendal). . Skripsi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Neneng Salmiah, Satria Tri Nanda. 2016  Analisis Penilaian Kredit Pada Bpr Indo Mitra Mega Kapital Dan Bpr Payung Negeri Bestari Di Kota Pekanbaru. Jurnal. Universitas Lancang Kuning.
Rahmini Hadi, 2011. Manajemen Keuangan, Penerbit STAIN Press Purwokerto.
Ricky W. Grifin dan Ronald, 2006, Bisnis,edisi Ke Delapan, Penerbit  PT Gelora Aksara Pratama
Rudianto.2012.Pengantar Akuntansi.Jakarta: Erlangga
Sugiyono. Metode Penelitian Bisnis. Penerbit Alfabet 2008.
Sugiyono. Statistik Untuk Penelitian. Penerbit Alfabet 2010.
Suryadi dkk, 2007. Kewirausahaan Membangun Usaha Sukses Sejak Usia Muda, Penerbit Salemba Empat